Sabtu, 24 Desember 2016

Surat untuk Pak Naka

Selamat malam, Pak Naka. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Seperti biasanya hari-hari saya disibukkan dengan jadwal kuliah dan tugas-tugas yang lumayan padat minggu ini. Saya yang berusaha membahagiakan diri merasa ada yang kurang saat perkuliahan bapak minggu kemarin tidak dapat dilaksanakan. Saya tahu bahwa bapak menghadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta.
Saya memang suka makan indomie, pak tapi saya harus menekan rasa keinginan saya demi kesehatan yang penting bagi diri saya. Saya paham bahwa bapak mempunyai tugas yang tidak dapat ditinggalkan. Tapi saya heran dengan pesawat yang membawabapak sampai ke Jakarta. Bagaimana bisa sebuah pesawat berangkat dan mendarat di stasiun? Apakah pesawatnya mempunyai model atau bentuk sperti kereta? Ah sudahlah pak saya bingung untuk memikirkan hal semacam itu.
Saya mungkin merasa berat jika kelas Penulisan Media Massa ditiadakan minggu ini. Karena Pak Naka menghadiri acara yang berhubungan dengan dunia akademik, dunia baca, dunia menulis, dunia media massa, dan dunia lain ya apa boleh buat saya harus merelakannya. Mengenai pertanyaan bapak tentang apa yang membuat kita, para mahasiswa malas membaca adalah tidak menariknya bahan bacaan. Bahan bacan yang kurang menarik membuat saya jadi kurang tertarik untuk melanjutkan bacaan yang saya baca. Kedua, saya sering tidak konsisten ketika membaca. Misalnya saat membaca novel saya sering kali berhenti ditengah-tengah karena merasa bosan dengan ceritanya.
            Saya tahu bahwa bapak menyuruh kami membaca, membeli buku, membaca koran, dan hal-hal lainnya itu demi kebaikan kami sendiri. Ya, agar kami sering membaca sehingga kami menjadi suka membaca apa pun bahan bacaannya entah itu esai, cerpen, puisi, novel maupun jenis bacaan yang lain. Saya juga sadar bahwa menuju masa depan membutuhkan perjuangan, kerja keras, berdoa, dan usaha-usaha lain untuk membantu menggapainya.
            Kesadaran akan diri sendiri dan mampu menempatkan diri dengan baik merupakan hal yang penting selain kerja keras dan usaha. Karena jika kita mampu sadar dengan diri kita sendiri kita akan tahu apa saja yang perlu dibenahi dan apa saja yang perlu ditingkatkan lagi untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Selain itu, menempatkan diri sendiri dengan lingkungan yang pas akan mempermudah kita. Bukan berarti kita menutup diri dengan lingkungan atau kelompok yang lain. Kita juga perlu menyesuaikan diri. Apabila kita merasa cocok, ya lanjutkan.
            Saya tidak sedang menyuci baju, mengantar pacar beli makan malam, maupun duduk sendiri di dalam kamar kos memikirkan strategi tentang makanan. Tapi saat ini saya sedang duduk manis sambil membalas surat dari bapak. Sesuai permintaan bapak, saya akan menjawab dengan personal. Tetapi saya tidak akan menggunakan uang mainan atau daun pisang sebagai segel karena di sekitar kos tidak ada kedua benda tersebut. Saya hanya akan memakai sebuah amplop. Sederhana saja.
            Saya sependapat dengan bapak bahwa kita harus dapat memahami diri sendiri. Karena dengan memahami diri sendiri, kita dapat mengetahui apa kelemahan dan kelebihan kita. Kita jadi tau apa yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan lagi pada diri sendiri. Kelemahan pada diri sendiri harus kita asah lagi agar dapat membantu diri sendiri untuk berkembang menjadi lebih baik lagi. Sedangkan kita dapat mempertahankan dan mengembangkan lebih baik lagi apa kelebihan yang sdak diri kita miliki. Melalui diri sendiri, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk diri sendiri maupun masyarakat sekitar.
            Seperti yang Pak Naka bilang, denagn mencari tahu apa yang ada pada diri kita. Setelah itu baru kita memahami orang lain yang ada di sekitar kita. Motivasi kuliah tentu saja untuk masa depan yang lebih baik. Lebih baik di sini maksudnya adalah agar bermanfaat bagi orang lain. Selain itu kita harus menggapai ilmu setinggi mungkin. Mungkin terkadang saya merasa agak jengkel jika melihat ada yang ramai sendiri di kelas. Ya mungkin mereka belum bisa peka dengan keadaan sekitar.

            Terkadang, seseorang menganggap kuliah itu sebagai beban yang harus mereka tanggung. Padahal ya kuliah kan hanya rutinitas yang harus kita jalani karena itu merupakan pilihan individu masing-masing. Iya, pak kuliah itu sementara jadi harus dijalani sewajarnya saja agar tidak menjadi beban diri sendiri. Menurut saya agak susah untuk menggali apa yang sebenarnya kita miliki, apa yang menarik dari diri sendiri, dan apa yang bisa dijual dari diri kita. Tapi yang terpenting adalah mengetahui dan memahami diri sendiri. Dari sana kita dapat mengetahui apa yang kita miliki dan apa yang menarik dari diri kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar