Surat untuk Pak Naka
Selamat
malam, Pak Naka. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Seperti biasanya hari-hari
saya disibukkan dengan jadwal kuliah dan tugas-tugas yang lumayan padat minggu
ini. Saya yang berusaha membahagiakan diri merasa ada yang kurang saat
perkuliahan bapak minggu kemarin tidak dapat dilaksanakan. Saya tahu bahwa
bapak menghadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta.
Saya
memang suka makan indomie, pak tapi saya harus menekan rasa keinginan saya demi
kesehatan yang penting bagi diri saya. Saya paham bahwa bapak mempunyai tugas
yang tidak dapat ditinggalkan. Tapi saya heran dengan pesawat yang membawabapak
sampai ke Jakarta. Bagaimana bisa sebuah pesawat berangkat dan mendarat di
stasiun? Apakah pesawatnya mempunyai model atau bentuk sperti kereta? Ah sudahlah
pak saya bingung untuk memikirkan hal semacam itu.
Saya
mungkin merasa berat jika kelas Penulisan Media Massa ditiadakan minggu ini. Karena
Pak Naka menghadiri acara yang berhubungan dengan dunia akademik, dunia baca,
dunia menulis, dunia media massa, dan dunia lain ya apa boleh buat saya harus
merelakannya. Mengenai pertanyaan bapak tentang apa yang membuat kita, para
mahasiswa malas membaca adalah tidak menariknya bahan bacaan. Bahan bacan yang
kurang menarik membuat saya jadi kurang tertarik untuk melanjutkan bacaan yang
saya baca. Kedua, saya sering tidak konsisten ketika membaca. Misalnya saat
membaca novel saya sering kali berhenti ditengah-tengah karena merasa bosan
dengan ceritanya.
Saya tahu bahwa bapak menyuruh kami
membaca, membeli buku, membaca koran, dan hal-hal lainnya itu demi kebaikan
kami sendiri. Ya, agar kami sering membaca sehingga kami menjadi suka membaca
apa pun bahan bacaannya entah itu esai, cerpen, puisi, novel maupun jenis
bacaan yang lain. Saya juga sadar bahwa menuju masa depan membutuhkan
perjuangan, kerja keras, berdoa, dan usaha-usaha lain untuk membantu
menggapainya.
Kesadaran akan diri sendiri dan
mampu menempatkan diri dengan baik merupakan hal yang penting selain kerja
keras dan usaha. Karena jika kita mampu sadar dengan diri kita sendiri kita
akan tahu apa saja yang perlu dibenahi dan apa saja yang perlu ditingkatkan
lagi untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Selain itu, menempatkan
diri sendiri dengan lingkungan yang pas akan mempermudah kita. Bukan berarti
kita menutup diri dengan lingkungan atau kelompok yang lain. Kita juga perlu
menyesuaikan diri. Apabila kita merasa cocok, ya lanjutkan.
Saya tidak sedang menyuci baju,
mengantar pacar beli makan malam, maupun duduk sendiri di dalam kamar kos memikirkan
strategi tentang makanan. Tapi saat ini saya sedang duduk manis sambil membalas
surat dari bapak. Sesuai permintaan bapak, saya akan menjawab dengan personal.
Tetapi saya tidak akan menggunakan uang mainan atau daun pisang sebagai segel
karena di sekitar kos tidak ada kedua benda tersebut. Saya hanya akan memakai
sebuah amplop. Sederhana saja.
Saya sependapat dengan bapak bahwa
kita harus dapat memahami diri sendiri. Karena dengan memahami diri sendiri,
kita dapat mengetahui apa kelemahan dan kelebihan kita. Kita jadi tau apa yang
perlu dikembangkan dan ditingkatkan lagi pada diri sendiri. Kelemahan pada diri
sendiri harus kita asah lagi agar dapat membantu diri sendiri untuk berkembang
menjadi lebih baik lagi. Sedangkan kita dapat mempertahankan dan mengembangkan
lebih baik lagi apa kelebihan yang sdak diri kita miliki. Melalui diri sendiri,
kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk diri sendiri maupun
masyarakat sekitar.
Seperti yang Pak Naka bilang, denagn
mencari tahu apa yang ada pada diri kita. Setelah itu baru kita memahami orang
lain yang ada di sekitar kita. Motivasi kuliah tentu saja untuk masa depan yang
lebih baik. Lebih baik di sini maksudnya adalah agar bermanfaat bagi orang
lain. Selain itu kita harus menggapai ilmu setinggi mungkin. Mungkin terkadang
saya merasa agak jengkel jika melihat ada yang ramai sendiri di kelas. Ya
mungkin mereka belum bisa peka dengan keadaan sekitar.
Terkadang, seseorang menganggap
kuliah itu sebagai beban yang harus mereka tanggung. Padahal ya kuliah kan
hanya rutinitas yang harus kita jalani karena itu merupakan pilihan individu
masing-masing. Iya, pak kuliah itu sementara jadi harus dijalani sewajarnya
saja agar tidak menjadi beban diri sendiri. Menurut saya agak susah untuk
menggali apa yang sebenarnya kita miliki, apa yang menarik dari diri sendiri,
dan apa yang bisa dijual dari diri kita. Tapi yang terpenting adalah mengetahui
dan memahami diri sendiri. Dari sana kita dapat mengetahui apa yang kita miliki
dan apa yang menarik dari diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar