Gemuruh
di Lantai Tujuh
Oleh Intan Haniya Ulfah
Universitas
PGRI Semarang kembali menggelar pementasan drama Jaka Tarub dan monolog Balada Sumarah
yang diselenggarakan di Gedung Pusat lantai 7. Drama tersebut berjudul Jaka
Tarub dan monolog Balada sumarah. Pengaturan panggung, tata cahaya dan
efek music yang apik menambah pementasan
semakin menarik. Drama dan monolog yang disuguhkan memiliki jalan cerita yang membuat
orang bertanya-tanya sehingga dapat membuat penonton penasaran dengan apa yang
akan terjadi selanjutnya. Mungkin banyak orang yang sudah mendengar kisah
tentang Jaka Tarub. Namun, pada pementasan yang dilaksanakan pada tanggal 4
Oktober 2016 itu selalu membuat penonton penasaran dengan adegan demi adegan
yang dimainkan malam itu.
Diawali
dengan Jaka Tarub yang tidur di luar rumah dan kemudian berteriak dan terbangun
karena mimpi. Setiap malam purnama, Jaka Tarub pasti tidur di luar rumah. Ia
bermimpi bahwa ia akan kehilangan putri semata wayangnya itu. Mimpi yang
dialami Jaka Tarub tidak diceritakan kepada anaknya karena ia belum siap
menceritakan mimpi yang seolah-olah nyata itu. Jaka Tarub bermimpi saat ia baru
bertemu hingga ia kehilangan istrinya, Nawang Wulan yang merupakan seorang
bidadari. Beberapa malam sebelum Jaka Tarub bertemu dengan Nawang Wulan, ia selalu
bermimpi bahwa ia akan menikahi seorang bidadari.Suatu hari, mimpi itu menjadi
sebuah kenyataan yang tidak disangka-sangka oleh Jaka Tarub. Malam setelah Jaka
Tarub terbangun dari mimpinya, ia mencari binatang di hutan dekat desa tempat
tinggalnya. Tidak disangka-sangka, Jaka Tarub bertemu para bidadari yang sedang
mandi di sungai. Jaka Tarub yang sangat senang bertemu dengan bidadari sengaja
mengambil salah satu selendang milik bidadari itu. Akibatnya, salah satu
bidadari tidak dapat pulang ke kayangan bersama saudaranya. Bidadari tersebut
bermana Nawang Wulan, yang sekarang menjadi istri dari Jaka Tarub.
Saat
itu Nawang Wulan meminta agar Jaka Tarub tidak membuka penutup panci yang
digunakan untuk menanak nasi. Jaka Tarub
yang penasaran, akhirnya membuka penutup panci tersebut. Nawang Wulan marah
kepada Jaka Tarub. Sesaat kemudian, Nawang Wulan menemukkan selendang miliknya
yang ternyata diambil dan disembunyikan selama itu. Nawang Wulan yang saat itu
merasa marah langsung pulan ke kayangan karena ia tidak bias hidup dengan orang
yang sudah membohongi dan mengingkari janji kepada Nawang Wulan. Pada akhirnya
Nawang Wulan tidak kembali lagi ke bumi. Jaka Tarub khawatir akan kehilangan
putri semata wayangnya itu juga. Sama seperti saat Jaka Tarub bermimpi ia
kehilangan sang istri yang meninggalkannya pulang ke kayangan karena Jaka Tarub
berbohong dan tidak menepati janji kepada istrinya, Nawang Wulan..Begitulah
cerita Jaka Tarub.
Dari
pementasan drama tersebut, pengarang menggunakan teknik flashback agar pementasan drama terlihat lebih menarik. Tata
panggung dan cahaya ditata dengan sangat bagus dan rapi. Di tengah-tengah
pementasan drama diselingi dengan candaan-candaan yang menghibur para penonton
agar tidak merasa bosan dengan cerita yang ditampilkan. Candaan dari tokoh yang
bernama Tomo dan Topo tersebut semakin membuat perut penoton serasa tergelitik
oleh omongan dan tingkah laku mereka. Ditambah lagi dengan kedatangan tokoh
yang merupakan mantan Lurah di desa mereka yang memberikan tes kepada Tomo dan
Topo membuat Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang itu semakin
bergemuruh. Suara gemuruh tersebut disebabkan oleh tertawanya para penonton
yang menikmati pertunjukkan malam itu.
Monolog
Balada Sumarah
Monolog yang menceritakan tentang seorang perempuan yang
bernama Sumarah ini sangat menarik untuk ditonton. Pemeran sangat menjiwai
tokoh yang diperankan. Pemeran dapat mengubah karakter tokoh dengan tepat dan
tidak membingungkan penonton. Walaupun hanya dibekali sebuah peti dan kostum
yang dikenakan, pemeran dapat memanfaatkan properti dengan baik. Efek cahaya
dan musik juga membuat pertunjukan semakin menarik untuk disimak.
Sumarah dalam monolog tersebut adalah seorang TKW (Tenaga
Kerja Wanita) yang bekerja di Arab Saudi. Ia merasa bahwa ilmu yang ia pelajari
di sekolah dan mendengarkan penjelasan guru-gurunya sia-sia. Ia merasa sia-sia
karena ilmu yang selama ini dipelajari tidak berguna karena Sumarah sekarang
hanya menjadi seorang TKW. Anak dari seorang anggota PKI ini dihukum karena ia
telah membunuh majikannya. Tapi Sumarah melakukan perbuatan itu bukan tanpa
alasan. Majikan Sumarah telah melakukan perbuatan yang tidak mengenakkan
terhadap Sumarah. Gaji Sumarah selama setahun tidak pernah diberi karena selalu
ada alasan bermacam-macam saat Sumarah menanyakan gajinya. Apalagi saat majikan
laki-laki Sumarah melakukan perbuatan tidak baik terhadapnya. Saat itu Sumarah
merasa semakin depresi dan akhirnya ia membunuh majikannya. Sumarah kemudian
dijatuhi hukuman mati. Ia hanya pasrah dalam menjalani hukumannya itu. Sumarah
tidak membutuhkan kuasa hukum atau sebagainya karena dia mengakui bahwa dirinya
memang bersalah telah membunuh majikannya. Begitulah monolog Balada Sumarah
malam itu.
Para penonton tidak lagi tertawa saat menyaksikan monolog
tersebut. Berbeda saat penonton menikmati drama Jaka Tarub, penonton hening
menyaksikan monolog Balada Sumarah. Monolog tersebut membuat para penonton
terbawa suasana di mana tokoh Sumarah begitu malang dan tersiksa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar