Senin, 24 September 2018

AUTOBIOGRAFI


Nama saya Intan Haniya Ulfah. Dalam keseharian, saya biasa dipanggil Intan. Namun, ada juga beberapa orang yang lebih suka memanggil saya Haniya. Saya lahir di sebuah kabupaten yang terletak Jawa Tengah yaitu Pati, tepatnya pada tanggal 25 April 1997. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Ayah saya bernama Suprapto dan ibu saya bernama Sriningsih. Ayah saya seorang  wiraswasta dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Dari kecil hingga sekarang saya tinggal di Jalan Mangkudipuro, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah bersama orang tua saya.
Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya bernama Tika Ulinnuha Ramadhanti yang sekarang sedang bersekolah di salah satu SMA di Kecamatan Juwana. Adik saya baru saja menginjak kelas X.
Saya suka membaca. Biasanya saya membaca cerita atau karangan di Wattpad, yaitu salah satu aplikasi yang berisi tentang karangan orang lain maupun diri sendiri. Saya suka membaca cerita dengan genre Science-fiction. Mengapa saya suka membaca genre tersebut? Karena genre tersebut tidak membuat saya cepat bosan saat membaca sebuah cerita atau tulisan. Cerita yang disisipi dengan ilmu sains juga dapat menambah pengetahuan saat saya membacanya.
Selain membaca, saya juga suka bersepeda. Biasanya setiap hari Minggu pagi, saya bersepeda dengan adik saya mengelilingi kota Juwana. Kemudian, biasanya kami membeli jajanan yang ada di alun-alun atau di tempat yang biasa disebut “ujung” oleh warga Juwana.
Saya mulai bersekolah di TK Islam 01 Juwana. Dua tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 2003 saya melanjutakan sekolah di SD Negeri Kauman 01 Juwana pada usia 6 tahun. Saat kelas 5, saya ditunjuk mewakili sekolah untuk mengikuti lomba sinopsis dan defile. Saat mengikuti lomba tersebut, saya meraih juara ke-3 untuk lomba sinopsis dan juara pertama saat mengikuti lomba defile. Kedua pengalaman tersebut merupakan pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan karena saya dapat membuat sekolah dan orang tua saya bangga. Selain itu, pengalaman tersebut juga mengajarkan saya bagaimana untuk tampil percaya diri di depan umum.
Setelah saya lulus dari SD N Kauman 01, saya melanjutkan ke SMP Negeri 1 Juwana. Di sana saya menimba ilmu selama tiga tahun. Di SMP N 1 Juwana, saya mengikuti ekstra kulikuler PMR. Seiring waktu berlalu, saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2012, saya bersekolah di SMA Negeri 2 Pati. Di sanalah saya mulai membangun cita-cita dan impian saya. Saya sempat bingung ingin menjadi seorang Ahli Gizi atau menjadi seorang Guru. Jadi, saat kelas XI saya memutuskan untuk memilih jurusan IPA. Saya akan berusaha untuk dapat menggapai cita-cita saya untuk membahagiakan kedua oran tua saya.
Akhirnya, saya memilih jurusan pendidikan lebih tepatnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di salah satu universias di Semarang. Saya menjadi mahasiswa di universitas tersebut pada tahun 2015. Sudah tiga tahun saya menjalani hidup sebagai mahasiswa. Saat awal semester saya sempat bergabung dengan UKM Teater di kampus.
Sekitar bulan Juli 2018 kemarin, saya telah menjalani praktik mengajar di salah satu sekolah di Kabupaten Pati. Pengalaman mengajar merupakan salah satu pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena dapat belajar dan berbagi ilmu dengan peserta didik. Walaupun ada beberapa kendala, saya sudah melakukan yang terbaik.


Sabtu, 24 Desember 2016

Berani Lebih Jeli
Oleh Intan Haniya Ulfah

Menanggapi esai dari Mitha Eni Ermiyawati yang berjudul Perkembangan Pentas Seni di Universitas, saya sependapat bahwa Monolog Balada Sumarah lebih menarik perhatian penonton daripada Drama Jaka Tarub. Hal itu dikarenakan mungkin drama Jaka Tarub lebih sering didengar orang. Pemeran dalam Monolog Balada Sumarah sendiri sangat menjiwai perannya sebagai Sumarah. Bahkan penonton juga dapat merasakan apa yang terjadi dengan sosok Sumarah dalam monolog tersebut.
Menurut saya, pementasan Drama Jaka Tarub cukup bagus tetapi kurang membuat penonton terkesan dan terhibur. Nyatanya masih banyak penonton yang asik mengobrol dan bermain ponselnya. Di tengah-tengah pertunjukkan ada selingan yang bertujuan agar penonton tidak bosan menyaksikan pementasan tersebut. Berbeda saat pementasan Monolog Balada Sumarah yang membuat penonton terhibur. Saat pementasan monolog tersebut penonton diajak untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh Sumarah.
Saya akan menambahkan beberapa fungsi dari teater itu sendiri yang belum dijelaskan dalam esai Mitha Eni. Pertama, teater berfungsi sebagai media ekspresi. Dalam hal ini seniman teater akan berekspresi melalui karya seninya yang berupa ucapan-ucapan dan gerakan tubuh. Kedua, yaitu teater sebagai sarana pendidikan karena melaui pertunjukan para penonton lebih mudah menerima apa saja perbuatan-perbuatan yang baik maupun yang kurang baik. Saat taeter dipentaskan pesan-pesan sang penulis dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton. Ketiga, yaitu teater sebagai media hiburan. Teater yang sudah dipersapkan secara maksimal diharapkan akan menghibur penontonnya.


Surat untuk Pak Naka

Selamat malam, Pak Naka. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Seperti biasanya hari-hari saya disibukkan dengan jadwal kuliah dan tugas-tugas yang lumayan padat minggu ini. Saya yang berusaha membahagiakan diri merasa ada yang kurang saat perkuliahan bapak minggu kemarin tidak dapat dilaksanakan. Saya tahu bahwa bapak menghadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta.
Saya memang suka makan indomie, pak tapi saya harus menekan rasa keinginan saya demi kesehatan yang penting bagi diri saya. Saya paham bahwa bapak mempunyai tugas yang tidak dapat ditinggalkan. Tapi saya heran dengan pesawat yang membawabapak sampai ke Jakarta. Bagaimana bisa sebuah pesawat berangkat dan mendarat di stasiun? Apakah pesawatnya mempunyai model atau bentuk sperti kereta? Ah sudahlah pak saya bingung untuk memikirkan hal semacam itu.
Saya mungkin merasa berat jika kelas Penulisan Media Massa ditiadakan minggu ini. Karena Pak Naka menghadiri acara yang berhubungan dengan dunia akademik, dunia baca, dunia menulis, dunia media massa, dan dunia lain ya apa boleh buat saya harus merelakannya. Mengenai pertanyaan bapak tentang apa yang membuat kita, para mahasiswa malas membaca adalah tidak menariknya bahan bacaan. Bahan bacan yang kurang menarik membuat saya jadi kurang tertarik untuk melanjutkan bacaan yang saya baca. Kedua, saya sering tidak konsisten ketika membaca. Misalnya saat membaca novel saya sering kali berhenti ditengah-tengah karena merasa bosan dengan ceritanya.
            Saya tahu bahwa bapak menyuruh kami membaca, membeli buku, membaca koran, dan hal-hal lainnya itu demi kebaikan kami sendiri. Ya, agar kami sering membaca sehingga kami menjadi suka membaca apa pun bahan bacaannya entah itu esai, cerpen, puisi, novel maupun jenis bacaan yang lain. Saya juga sadar bahwa menuju masa depan membutuhkan perjuangan, kerja keras, berdoa, dan usaha-usaha lain untuk membantu menggapainya.
            Kesadaran akan diri sendiri dan mampu menempatkan diri dengan baik merupakan hal yang penting selain kerja keras dan usaha. Karena jika kita mampu sadar dengan diri kita sendiri kita akan tahu apa saja yang perlu dibenahi dan apa saja yang perlu ditingkatkan lagi untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Selain itu, menempatkan diri sendiri dengan lingkungan yang pas akan mempermudah kita. Bukan berarti kita menutup diri dengan lingkungan atau kelompok yang lain. Kita juga perlu menyesuaikan diri. Apabila kita merasa cocok, ya lanjutkan.
            Saya tidak sedang menyuci baju, mengantar pacar beli makan malam, maupun duduk sendiri di dalam kamar kos memikirkan strategi tentang makanan. Tapi saat ini saya sedang duduk manis sambil membalas surat dari bapak. Sesuai permintaan bapak, saya akan menjawab dengan personal. Tetapi saya tidak akan menggunakan uang mainan atau daun pisang sebagai segel karena di sekitar kos tidak ada kedua benda tersebut. Saya hanya akan memakai sebuah amplop. Sederhana saja.
            Saya sependapat dengan bapak bahwa kita harus dapat memahami diri sendiri. Karena dengan memahami diri sendiri, kita dapat mengetahui apa kelemahan dan kelebihan kita. Kita jadi tau apa yang perlu dikembangkan dan ditingkatkan lagi pada diri sendiri. Kelemahan pada diri sendiri harus kita asah lagi agar dapat membantu diri sendiri untuk berkembang menjadi lebih baik lagi. Sedangkan kita dapat mempertahankan dan mengembangkan lebih baik lagi apa kelebihan yang sdak diri kita miliki. Melalui diri sendiri, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk diri sendiri maupun masyarakat sekitar.
            Seperti yang Pak Naka bilang, denagn mencari tahu apa yang ada pada diri kita. Setelah itu baru kita memahami orang lain yang ada di sekitar kita. Motivasi kuliah tentu saja untuk masa depan yang lebih baik. Lebih baik di sini maksudnya adalah agar bermanfaat bagi orang lain. Selain itu kita harus menggapai ilmu setinggi mungkin. Mungkin terkadang saya merasa agak jengkel jika melihat ada yang ramai sendiri di kelas. Ya mungkin mereka belum bisa peka dengan keadaan sekitar.

            Terkadang, seseorang menganggap kuliah itu sebagai beban yang harus mereka tanggung. Padahal ya kuliah kan hanya rutinitas yang harus kita jalani karena itu merupakan pilihan individu masing-masing. Iya, pak kuliah itu sementara jadi harus dijalani sewajarnya saja agar tidak menjadi beban diri sendiri. Menurut saya agak susah untuk menggali apa yang sebenarnya kita miliki, apa yang menarik dari diri sendiri, dan apa yang bisa dijual dari diri kita. Tapi yang terpenting adalah mengetahui dan memahami diri sendiri. Dari sana kita dapat mengetahui apa yang kita miliki dan apa yang menarik dari diri kita. 



Esai Abdul Ghofur berjudul “Mahasiswa Miskin Terjebak UKT” (Tribun Jateng, 1 September 2016)  sangat menarik perhatian. Sekarang ini memang banyak mahasiswa dari beberapa Peguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mengeluh tentang adanya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Banyak dari mereka yang tidak sesuai dari penggolongan UKT itu sendiri. Misalnya mahasiswa yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dimasukkan/digolongkan pada UKT yang tinggi.  Bagi mahasiswa tersebut itu kurang adil bagi mereka karena itu justru akan lebih memberatkan keluarga mereka. Seperti yang dikatakan saudara Ghofur, bahwa ada beberapa PTN yang ceroboh dalam menggolongkan mahasiswa ke golongan UKT. Seharusnya PTN lebih cermat dan teliti dalam melakukannya karena apabila mereka salah dalam menggolongkan mahasiswa pada UKT yang sebenarnya, maka hal itu akan lebih memberatkan bagi mahasiswa dan keluarganya.
Pada kenyataannya kecerobohan itu masih terjadi sampai sekarang. Tapi apakah hal itu merupakan kecerobohan? Selain itu PTN juga tidak menjelaskan aturan-aturan tentang UKT tersebut. Penggolongan UKT seharusnya sesuai fakta yang ada di lapangan. Kebijakan-kebijakan UKT juga masih belum terealisasi dengan baik di lapangan. “Jika kuota lima persen itu angka minimal seharusnya mampu mengakomodasi lebih dari lima persen mahasiswa miskin (paragraf 6)” seharusnya kata minimal dapat menjadi patokan kapasitas atau kuota pada penggolongan UKT. Apabila kuota mahasiswa miskin lebih dari lima persen masih bias dimasukkan dalam golongan tersebut bukannya malah kata minimal dianggap ambang batas maksimal. Hal ini diharapkan PTN lebih cermat dalam memasukkan dan mengolah data maupun memahami kebijakan yang dibuat pemerintah. Oleh karena itu, peran pemerintah dan semua pihak sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini.



Gemuruh di Lantai Tujuh
Oleh Intan Haniya Ulfah

Universitas PGRI Semarang kembali menggelar pementasan drama Jaka Tarub dan monolog Balada Sumarah yang diselenggarakan di Gedung Pusat lantai 7. Drama tersebut berjudul Jaka Tarub dan monolog Balada sumarah. Pengaturan panggung, tata cahaya dan efek  music yang apik menambah pementasan semakin menarik. Drama dan monolog yang disuguhkan memiliki jalan cerita yang membuat orang bertanya-tanya sehingga dapat membuat penonton penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin banyak orang yang sudah mendengar kisah tentang Jaka Tarub. Namun, pada pementasan yang dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016 itu selalu membuat penonton penasaran dengan adegan demi adegan yang dimainkan malam itu.
Diawali dengan Jaka Tarub yang tidur di luar rumah dan kemudian berteriak dan terbangun karena mimpi. Setiap malam purnama, Jaka Tarub pasti tidur di luar rumah. Ia bermimpi bahwa ia akan kehilangan putri semata wayangnya itu. Mimpi yang dialami Jaka Tarub tidak diceritakan kepada anaknya karena ia belum siap menceritakan mimpi yang seolah-olah nyata itu. Jaka Tarub bermimpi saat ia baru bertemu hingga ia kehilangan istrinya, Nawang Wulan yang merupakan seorang bidadari. Beberapa malam sebelum Jaka Tarub bertemu dengan Nawang Wulan, ia selalu bermimpi bahwa ia akan menikahi seorang bidadari.Suatu hari, mimpi itu menjadi sebuah kenyataan yang tidak disangka-sangka oleh Jaka Tarub. Malam setelah Jaka Tarub terbangun dari mimpinya, ia mencari binatang di hutan dekat desa tempat tinggalnya. Tidak disangka-sangka, Jaka Tarub bertemu para bidadari yang sedang mandi di sungai. Jaka Tarub yang sangat senang bertemu dengan bidadari sengaja mengambil salah satu selendang milik bidadari itu. Akibatnya, salah satu bidadari tidak dapat pulang ke kayangan bersama saudaranya. Bidadari tersebut bermana Nawang Wulan, yang sekarang menjadi istri dari Jaka Tarub.
Saat itu Nawang Wulan meminta agar Jaka Tarub tidak membuka penutup panci yang digunakan untuk menanak  nasi. Jaka Tarub yang penasaran, akhirnya membuka penutup panci tersebut. Nawang Wulan marah kepada Jaka Tarub. Sesaat kemudian, Nawang Wulan menemukkan selendang miliknya yang ternyata diambil dan disembunyikan selama itu. Nawang Wulan yang saat itu merasa marah langsung pulan ke kayangan karena ia tidak bias hidup dengan orang yang sudah membohongi dan mengingkari janji kepada Nawang Wulan. Pada akhirnya Nawang Wulan tidak kembali lagi ke bumi. Jaka Tarub khawatir akan kehilangan putri semata wayangnya itu juga. Sama seperti saat Jaka Tarub bermimpi ia kehilangan sang istri yang meninggalkannya pulang ke kayangan karena Jaka Tarub berbohong dan tidak menepati janji kepada istrinya, Nawang Wulan..Begitulah cerita Jaka Tarub.
Dari pementasan drama tersebut, pengarang menggunakan teknik flashback agar pementasan drama terlihat lebih menarik. Tata panggung dan cahaya ditata dengan sangat bagus dan rapi. Di tengah-tengah pementasan drama diselingi dengan candaan-candaan yang menghibur para penonton agar tidak merasa bosan dengan cerita yang ditampilkan. Candaan dari tokoh yang bernama Tomo dan Topo tersebut semakin membuat perut penoton serasa tergelitik oleh omongan dan tingkah laku mereka. Ditambah lagi dengan kedatangan tokoh yang merupakan mantan Lurah di desa mereka yang memberikan tes kepada Tomo dan Topo membuat Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang itu semakin bergemuruh. Suara gemuruh tersebut disebabkan oleh tertawanya para penonton yang menikmati pertunjukkan malam itu.

Monolog Balada Sumarah
            Monolog yang menceritakan tentang seorang perempuan yang bernama Sumarah ini sangat menarik untuk ditonton. Pemeran sangat menjiwai tokoh yang diperankan. Pemeran dapat mengubah karakter tokoh dengan tepat dan tidak membingungkan penonton. Walaupun hanya dibekali sebuah peti dan kostum yang dikenakan, pemeran dapat memanfaatkan properti dengan baik. Efek cahaya dan musik juga membuat pertunjukan semakin menarik untuk disimak.
            Sumarah dalam monolog tersebut adalah seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bekerja di Arab Saudi. Ia merasa bahwa ilmu yang ia pelajari di sekolah dan mendengarkan penjelasan guru-gurunya sia-sia. Ia merasa sia-sia karena ilmu yang selama ini dipelajari tidak berguna karena Sumarah sekarang hanya menjadi seorang TKW. Anak dari seorang anggota PKI ini dihukum karena ia telah membunuh majikannya. Tapi Sumarah melakukan perbuatan itu bukan tanpa alasan. Majikan Sumarah telah melakukan perbuatan yang tidak mengenakkan terhadap Sumarah. Gaji Sumarah selama setahun tidak pernah diberi karena selalu ada alasan bermacam-macam saat Sumarah menanyakan gajinya. Apalagi saat majikan laki-laki Sumarah melakukan perbuatan tidak baik terhadapnya. Saat itu Sumarah merasa semakin depresi dan akhirnya ia membunuh majikannya. Sumarah kemudian dijatuhi hukuman mati. Ia hanya pasrah dalam menjalani hukumannya itu. Sumarah tidak membutuhkan kuasa hukum atau sebagainya karena dia mengakui bahwa dirinya memang bersalah telah membunuh majikannya. Begitulah monolog Balada Sumarah malam itu.
            Para penonton tidak lagi tertawa saat menyaksikan monolog tersebut. Berbeda saat penonton menikmati drama Jaka Tarub, penonton hening menyaksikan monolog Balada Sumarah. Monolog tersebut membuat para penonton terbawa suasana di mana tokoh Sumarah begitu malang dan tersiksa.


Gebyar-gebyar Bersastra
Oleh Intan Haniya Ulfah (3F)

Universitas PGRI Semarang kembali mengadakan Gebyar Bulan Bahasa yang diperingati setiap bulan Oktober. Gebyar Bulan Bahasa memiliki rangkaian acara salah satunya UPGRIS BERSASTRA 3 pembaca, 3 kritikus, 3 buku, 1 pengarang yang diselenggarakan pada tanggal 19 Oktober 2016 di Balairung Universitas PGRI Semarang. Bulan Bahasa merupakan acara tahunan yang diselenggarakan setiap setahun sekali. Peringatan Bulan Bahasa yaitu pada bulan Oktober karena pada bulan itu telah terumuskannya Sumpah Pemuda yang pada salah satu poinnya berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia”. Bunyi dari poin ketiga tersebut yang menjadi alasan mengapa Bulan Bahasa diperingati setiap bulan Oktober dengan puncak acaranya diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober.
Ruangan tersebut melai sesak oleh penonton mulai pukul 08.45 WIB yang sekaligus dibukanya acara pada pagi itu. Riuh suara penonton yang sudah tidak sabar untuk menyimak acara tersebut sudah tidak tertahankan. Apalagi desain panggung yang begitu klasik dengan dihiasi dua buah cermin besar, bunga, dan empat buah bingaki yang digantung diatas panggung lebih membuat panggung tidak monoton. Ditambah lagi lighting yang membuat panggung terasa hidup. 
Ketika dibukanya acara tersebut, yang sebelumnya terdengar suara riuh dari penonton seketika menjadi hening saat Biscuittime mulai membuka acara tersebut. Mereka menyanyikan beberapa lagu berasal dari puisi atau yang disebut juga musikalisasi puisi karya Galih Pandu Aji yang berjudul Aku Ingin Mencintaimu Tapi Tak Tahu Caranya, Soliloki, dan Menjelma Puisi. Para penonton sangat menikmati alunan musik dan suara merdu dari Biscuittime. Balairung yang penuh dengan mahasiswa itu semakin bersorak sorai setelah melihat penampilan dari Biscuittime.
Pada pukul 09.15 WIB ditampilkan pertunjukan apresiasi puisi dalam bentuk tarian yang ditarikan oleh dua orang yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka menari dengan luwes dengan diiringi musik yang indah. Selanjutnya pembacaan puisi oleh lima orang perempuan. Pembacaan puisi tersebut kurang begitu jelas karena tidak memakai microphone sehingga suara dari para pembaca puisi tersebut tidak terdengan sampai ke seluruh ruangan. Ditambah lagi saat pembacaan puisi tersebut kurang menarik dan terkesan monoton. Penonton pun tidak lagi tertarik pada penampilan tersebut sehingga banyak yang ermain ponsel sendiri.
Setelah pembacaan puisi dari lima perempuan tersebut,  ada pembacaan puisi lagi dari Pak Bambang yang berjudul Hanacaraka. Pembacaan puisi ini diiringi oleh gamelan yang membuat penonton tertarik untuk menyimak. Apalagi ada beberapa tarian yang ditarikan oleh empat orang perempuan dan satu laki-laki. Dua dari empat penari perempuan tersebut menari denagn membawa jarring yang mengibaratkan mereka itu berprofesi sebagai nelayan. Kemudian dua orang lainnya menari menggunakan caping yang mengibaratkan mereka merupakan seorang petani.  Tarian para penari yang lincah semakin mencuri perhatian penonton untuk lebih jeli menyimak apa maksud dari tarian dan puisi yang dibacakan oleh Pak Bambang itu. Puncak ketegangan dari pembacaan puisi tersebut yaitu pada saat seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dalam balutan kain hitam yang melilit seluruh tubuhnya. Laki-laki itu berteriak dengan keras dan seolah-olah ingin terbebas dari jeratan kain yang melilit tubuhnya.
Penampilan itu pun berakhir dan digantikan oleh penampilan dari Ibu Sri Suciati, M. Hum menyanyikan sebuah puisi yang berjudul Selir Musim Panas. Saat membacakan puisi tersebut, Ibu Sri Suciati ditemani oleh salah satu mahasiswi dari program studi Pendidikan bahasa Inggris. Mereka berdua begitu menakjubkan di atas panggung. Mereka menyanyikan puisi tersebut seperti seorang sinden yang sangat memukau penonton dengan belaian suara lembut mereka. Ibu Sri Suciati dan mahasiswi itu menyanyikan secara bergantian bait demi bait.
Sebelum mulai ke acara inti, Rektor Universitas PGRI Semarang yaitu Bapak Muhdi. M. Hum yang menceritakan sedikit pengalaman beliau sekaligus membacakan dan menyanyikan puisi karangannya. Gemuruh suara penonton terdengar sampai ke ujung ruangan saat Pak Muhdi menyanyikan puisi sambil mengiringinya menggunakan gitar. Penonton ikut menikmati lirik demi lirik dari puisi yang dinyanyikan Rektor universitas PGRI Semarang itu. Tidak hanya para mahasiswa, tetapi para tamu undangan juga sangat kagum dengan permainan gitar dan suara Pak Muhdi.

Setelah rangkaian penampilan-penampilan yang mengagumkan, tiba saatnya acara inti yaitu mengomentari 3 buku oleh 1 pengarang. Kritikus-kritikus itu antara lain Dr. Nur Hidayat, Drs. S. Prasetyo Utomo, M. Pd, dan Widyanuari Eko Putro, S. Pd yang dipandu oleh Dr. Harjito pada siang hari itu. Para kritikus tersebut mengktitik buku dari Triyanto Triwikromo. Judul buku tersebut yaitu Bersepeda Neraka yang merupakan fiksi mini, Selir Musim Panas yang merupakan lirik perih, dan Sesat Pikir para Binatang yang dikategorikan sebagai cerpen. Dari ketiga kritikus tersebut, sebagian besar mengrkritik tentang tokoh dan alur yang kurang jelas.

Rabu, 21 Desember 2016

Oktober Berbicara
Oleh Intan Haniya Ulfah

Bulan Oktober merupakan salah satu bulan bersejarah bagi seluruh masyarakat Indonesia selain bulan Agustus atau bulan-bulan lainnya. Bulan yang sangat berarti khususnya untuk para pemuda Indonesia. Pada saat itu para pemuda Indonesia berkomitmen demi tanah air yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Sumpah Pemuda sangat penting bagi Indonesia. Pemuda Indonesia banyak memberikan kontribusi terhadap perjuangan bangsa. Banyaknya peran pemuda Indonesia membawa bangsa Indonesia kea rah yang lebih baik dan dapat menjadi tulang punggung bangsa. Perubahan telah banyak terjadi dengan bantuan para pemuda. Banyak juga negara yang mengalami perubahan yang dilakukan oleh pemuda.
Setiap butir dari Sumpah Pemuda dapat mempertegas dan memperkokoh jati diri bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda juga harus tersimpan di hati para pemuda Indonesia untuk dijadikan semangat dalam melangkah. Semangat yang akan dijadikan bekal untuk masa depan seluruh pemuda agar dapat menggapai cita-cita bangsa. bekal itu selanjutnya akan disatukan menjadi sebuah komitmen sebagai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa universal yaitu bahasa Indonesia yang disatukan dalam Sumpah Pemuda.
Banyak event pada bulan Oktober yang memiliki arti tersendiri bagi bangsa Indonesia. Seperti Gebyar Bulan Bahasa yang diadakan di Universitas PGRI Semarang baru-baru ini. Gebyar Bulan Bahasa merupakan acara yang diadakan setahun sekali yaitu pada bulan Oktober. Acara ini bertemakan “Bahasa dan Budaya dalam Sinergi Nusantara”. Mengapa setiap bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa dan mengapa tidak bulan-bulan lainnya? Hal ini dikarenakan bulan Oktober terdapat hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober.
Semua itu karena bulan Oktober adalah bulan istimewa di mana pada saat itu para pemuda dan pemudi Indonesia mengucapkan sumpah yang terus dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda. Pada Sumpah Pemuda poin ke tiga menjadi alasan mengapa Bulan Bahasa diperingati setiap bulan Oktober.
            Bulan Bahasa Universitas PGRI Semarang memiliki serangkaian acara. Seperti Drama Komedi yang dilaksanakan pada 11 Oktober 2016 di Gedung Pusat Universitas PGRI Semarang, Kemah Sastra pada 15 Ontober 2016 di Bumi Perkemahan  Karanggeneng, Lomba Stand Up Comedy antar mahasiswa perguruan tinggi se-Jawa Tengah, Seminar Nasional, Lomba Pidato Bahasa Inggris, Bahasa jawa, dan bahasa Indonesia antar mahasiswa se-Jawa Tengah, UPGRIS Bersastra tentang 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, 1 pengarang. Acara ini berisi tentang 3 orang kritikus yag mengkritik 3 buah buku karya Triyanto Triwikromo. Ada juga lomba pidato dan lagu nusantara tingkat SMA/SMK/MA se-Jawa Tengah. Selain itu pada puncak rangkaian Gebyar Bulan Bahasa yang dilaksanakan pda tanggal 27 Oktober 2016 diadakan festival budaya yang sangat meriah.
            Sebelum acara dimulai, para mahasiswa sudah memenuhi Balairung Universitas PGRI Semarang. Para dosen maupun para mahasiswa memakai pakaian adat saat menghadiri acara tersebut. Semua penonton sangat antusias menantikan acara dimulai.
            Adanya penampilan beberapa mahasiswa menandai akan dimulainya acara. Suara merdu dari seorang mahasiswa membuat penonton menjadi hening dan bahkan ikut bernyanyi. Setelah menyanyikan beberapa lagu, beberapa mahasiswa menampilkan perkusi sekaligus dibukanya festival budaya UPGRIS 2016 oleh Rektor Universitas PGRI Semarang.
            Para mahasiswa yang berpartisipasi dalam acara tersebut sangat antusias. Berbagai macam pernak-pernik menghiasi tubuh mereka. Ada yang mengenakan selendang, topi, sarung, dan segala macam lainnya. Ekspresi mereka rasanya sudah tidak sabar ingin menampilkan sesuatu yang telah mereka persiapkan sebelumnya di depan Rektor, dosen, dan para mahasiswa lainnya yang hadir pada saat itu.
            Mahasiswa yang berpartisipasi pada hari itu menampilkan tari kreasi. Beberapa ada yang menampilkannya dengan sungguh-sungguh, sampai mereka memakai kostum Barongan dan Reog. Ada juga yang menampilkan biasa-biasa saja. Tetapi semua kontestan cukup menghibur hari itu.
            28 Oktober 2016 yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, ada lagi satu acara untuk memperingati hari Sumpah Pemuda yang bertemakan “Ingat! Pemuda Akar Bangasa”. Acara ini  dilaksanakan di Parkiran Gedung Utama Universitas PGRI Semarang pada pukul 09.00 WIB. Acara ini berisi tentang orasi-orasi dari para mahasiswa di Universitas PGRI Semarang. Para mahasiswa sangat semangat untuk menyampaikan orasinya di tengah lapangan. Dibelakangnya terdapat panggung dengan dekorasi yang unik. Di atas panggung tersebut dihiasi dengan ranting-ranting pohon yang membentuk suatu pola yang cukup sulit ditebak bentuk apa itu. Di depan ranting-ranting itu ada sebuah papan tulis yang bertuliskan teks Sumpah Pemuda. Di sekitar papan tulis terdapat para mahasiswa yang mengilustrasikan apa yang terjadi saat Sumpah Pemuda itu berlangsung.
            Sebenarnya serangkaian acara yang diselenggarakan pada saat itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan para pendahulu yang senantiasa didukung oleh para pemuda Indonesia. Kita hanya dapat menikmati apa yang sudah diperjuangkan sampai rela kehilangan nyawa demi negara ini. Tetapi, perjuangan yang sesungguhnya akan dimulai pada masa sekarang ini. Di mana bangsa ini akan memerangi bangsanya sendiri.