Gebyar-gebyar
Bersastra
Oleh Intan Haniya Ulfah (3F)
Universitas
PGRI Semarang kembali mengadakan Gebyar Bulan Bahasa yang diperingati setiap
bulan Oktober. Gebyar Bulan Bahasa memiliki rangkaian acara salah satunya UPGRIS
BERSASTRA 3 pembaca, 3 kritikus, 3 buku, 1 pengarang yang diselenggarakan pada
tanggal 19 Oktober 2016 di Balairung Universitas PGRI Semarang. Bulan Bahasa
merupakan acara tahunan yang diselenggarakan setiap setahun sekali. Peringatan
Bulan Bahasa yaitu pada bulan Oktober karena pada bulan itu telah terumuskannya
Sumpah Pemuda yang pada salah satu poinnya berbunyi “Kami putra dan putri
Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia”. Bunyi dari poin ketiga
tersebut yang menjadi alasan mengapa Bulan Bahasa diperingati setiap bulan
Oktober dengan puncak acaranya diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober.
Ruangan
tersebut melai sesak oleh penonton mulai pukul 08.45 WIB yang sekaligus
dibukanya acara pada pagi itu. Riuh suara penonton yang sudah tidak sabar untuk
menyimak acara tersebut sudah tidak tertahankan. Apalagi desain panggung yang
begitu klasik dengan dihiasi dua buah cermin besar, bunga, dan empat buah
bingaki yang digantung diatas panggung lebih membuat panggung tidak monoton. Ditambah
lagi lighting yang membuat panggung
terasa hidup.
Ketika
dibukanya acara tersebut, yang sebelumnya terdengar suara riuh dari penonton
seketika menjadi hening saat Biscuittime mulai membuka acara tersebut. Mereka
menyanyikan beberapa lagu berasal dari puisi atau yang disebut juga
musikalisasi puisi karya Galih Pandu Aji yang berjudul Aku Ingin Mencintaimu
Tapi Tak Tahu Caranya, Soliloki, dan Menjelma Puisi. Para penonton sangat
menikmati alunan musik dan suara merdu dari Biscuittime. Balairung yang penuh
dengan mahasiswa itu semakin bersorak sorai setelah melihat penampilan dari
Biscuittime.
Pada
pukul 09.15 WIB ditampilkan pertunjukan apresiasi puisi dalam bentuk tarian
yang ditarikan oleh dua orang yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Mereka menari dengan luwes dengan diiringi musik yang indah. Selanjutnya
pembacaan puisi oleh lima orang perempuan. Pembacaan puisi tersebut kurang begitu
jelas karena tidak memakai microphone sehingga
suara dari para pembaca puisi tersebut tidak terdengan sampai ke seluruh
ruangan. Ditambah lagi saat pembacaan puisi tersebut kurang menarik dan
terkesan monoton. Penonton pun tidak lagi tertarik pada penampilan tersebut
sehingga banyak yang ermain ponsel sendiri.
Setelah
pembacaan puisi dari lima perempuan tersebut,
ada pembacaan puisi lagi dari Pak Bambang yang berjudul Hanacaraka.
Pembacaan puisi ini diiringi oleh gamelan yang membuat penonton tertarik untuk
menyimak. Apalagi ada beberapa tarian yang ditarikan oleh empat orang perempuan
dan satu laki-laki. Dua dari empat penari perempuan tersebut menari denagn
membawa jarring yang mengibaratkan mereka itu berprofesi sebagai nelayan.
Kemudian dua orang lainnya menari menggunakan caping yang mengibaratkan mereka
merupakan seorang petani. Tarian para
penari yang lincah semakin mencuri perhatian penonton untuk lebih jeli menyimak
apa maksud dari tarian dan puisi yang dibacakan oleh Pak Bambang itu. Puncak
ketegangan dari pembacaan puisi tersebut yaitu pada saat seorang laki-laki yang
tiba-tiba muncul dalam balutan kain hitam yang melilit seluruh tubuhnya. Laki-laki
itu berteriak dengan keras dan seolah-olah ingin terbebas dari jeratan kain
yang melilit tubuhnya.
Penampilan
itu pun berakhir dan digantikan oleh penampilan dari Ibu Sri Suciati, M. Hum
menyanyikan sebuah puisi yang berjudul Selir Musim Panas. Saat membacakan puisi
tersebut, Ibu Sri Suciati ditemani oleh salah satu mahasiswi dari program studi
Pendidikan bahasa Inggris. Mereka berdua begitu menakjubkan di atas panggung.
Mereka menyanyikan puisi tersebut seperti seorang sinden yang sangat memukau penonton
dengan belaian suara lembut mereka. Ibu Sri Suciati dan mahasiswi itu
menyanyikan secara bergantian bait demi bait.
Sebelum
mulai ke acara inti, Rektor Universitas PGRI Semarang yaitu Bapak Muhdi. M. Hum
yang menceritakan sedikit pengalaman beliau sekaligus membacakan dan
menyanyikan puisi karangannya. Gemuruh suara penonton terdengar sampai ke ujung
ruangan saat Pak Muhdi menyanyikan puisi sambil mengiringinya menggunakan
gitar. Penonton ikut menikmati lirik demi lirik dari puisi yang dinyanyikan Rektor
universitas PGRI Semarang itu. Tidak hanya para mahasiswa, tetapi para tamu
undangan juga sangat kagum dengan permainan gitar dan suara Pak Muhdi.
Setelah
rangkaian penampilan-penampilan yang mengagumkan, tiba saatnya acara inti yaitu
mengomentari 3 buku oleh 1 pengarang. Kritikus-kritikus itu antara lain Dr. Nur
Hidayat, Drs. S. Prasetyo Utomo, M. Pd, dan Widyanuari Eko Putro, S. Pd yang
dipandu oleh Dr. Harjito pada siang hari itu. Para kritikus tersebut mengktitik
buku dari Triyanto Triwikromo. Judul buku tersebut yaitu Bersepeda Neraka yang
merupakan fiksi mini, Selir Musim Panas yang merupakan lirik perih, dan Sesat
Pikir para Binatang yang dikategorikan sebagai cerpen. Dari ketiga kritikus
tersebut, sebagian besar mengrkritik tentang tokoh dan alur yang kurang jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar