Sabtu, 24 Desember 2016

Gebyar-gebyar Bersastra
Oleh Intan Haniya Ulfah (3F)

Universitas PGRI Semarang kembali mengadakan Gebyar Bulan Bahasa yang diperingati setiap bulan Oktober. Gebyar Bulan Bahasa memiliki rangkaian acara salah satunya UPGRIS BERSASTRA 3 pembaca, 3 kritikus, 3 buku, 1 pengarang yang diselenggarakan pada tanggal 19 Oktober 2016 di Balairung Universitas PGRI Semarang. Bulan Bahasa merupakan acara tahunan yang diselenggarakan setiap setahun sekali. Peringatan Bulan Bahasa yaitu pada bulan Oktober karena pada bulan itu telah terumuskannya Sumpah Pemuda yang pada salah satu poinnya berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia”. Bunyi dari poin ketiga tersebut yang menjadi alasan mengapa Bulan Bahasa diperingati setiap bulan Oktober dengan puncak acaranya diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober.
Ruangan tersebut melai sesak oleh penonton mulai pukul 08.45 WIB yang sekaligus dibukanya acara pada pagi itu. Riuh suara penonton yang sudah tidak sabar untuk menyimak acara tersebut sudah tidak tertahankan. Apalagi desain panggung yang begitu klasik dengan dihiasi dua buah cermin besar, bunga, dan empat buah bingaki yang digantung diatas panggung lebih membuat panggung tidak monoton. Ditambah lagi lighting yang membuat panggung terasa hidup. 
Ketika dibukanya acara tersebut, yang sebelumnya terdengar suara riuh dari penonton seketika menjadi hening saat Biscuittime mulai membuka acara tersebut. Mereka menyanyikan beberapa lagu berasal dari puisi atau yang disebut juga musikalisasi puisi karya Galih Pandu Aji yang berjudul Aku Ingin Mencintaimu Tapi Tak Tahu Caranya, Soliloki, dan Menjelma Puisi. Para penonton sangat menikmati alunan musik dan suara merdu dari Biscuittime. Balairung yang penuh dengan mahasiswa itu semakin bersorak sorai setelah melihat penampilan dari Biscuittime.
Pada pukul 09.15 WIB ditampilkan pertunjukan apresiasi puisi dalam bentuk tarian yang ditarikan oleh dua orang yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka menari dengan luwes dengan diiringi musik yang indah. Selanjutnya pembacaan puisi oleh lima orang perempuan. Pembacaan puisi tersebut kurang begitu jelas karena tidak memakai microphone sehingga suara dari para pembaca puisi tersebut tidak terdengan sampai ke seluruh ruangan. Ditambah lagi saat pembacaan puisi tersebut kurang menarik dan terkesan monoton. Penonton pun tidak lagi tertarik pada penampilan tersebut sehingga banyak yang ermain ponsel sendiri.
Setelah pembacaan puisi dari lima perempuan tersebut,  ada pembacaan puisi lagi dari Pak Bambang yang berjudul Hanacaraka. Pembacaan puisi ini diiringi oleh gamelan yang membuat penonton tertarik untuk menyimak. Apalagi ada beberapa tarian yang ditarikan oleh empat orang perempuan dan satu laki-laki. Dua dari empat penari perempuan tersebut menari denagn membawa jarring yang mengibaratkan mereka itu berprofesi sebagai nelayan. Kemudian dua orang lainnya menari menggunakan caping yang mengibaratkan mereka merupakan seorang petani.  Tarian para penari yang lincah semakin mencuri perhatian penonton untuk lebih jeli menyimak apa maksud dari tarian dan puisi yang dibacakan oleh Pak Bambang itu. Puncak ketegangan dari pembacaan puisi tersebut yaitu pada saat seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul dalam balutan kain hitam yang melilit seluruh tubuhnya. Laki-laki itu berteriak dengan keras dan seolah-olah ingin terbebas dari jeratan kain yang melilit tubuhnya.
Penampilan itu pun berakhir dan digantikan oleh penampilan dari Ibu Sri Suciati, M. Hum menyanyikan sebuah puisi yang berjudul Selir Musim Panas. Saat membacakan puisi tersebut, Ibu Sri Suciati ditemani oleh salah satu mahasiswi dari program studi Pendidikan bahasa Inggris. Mereka berdua begitu menakjubkan di atas panggung. Mereka menyanyikan puisi tersebut seperti seorang sinden yang sangat memukau penonton dengan belaian suara lembut mereka. Ibu Sri Suciati dan mahasiswi itu menyanyikan secara bergantian bait demi bait.
Sebelum mulai ke acara inti, Rektor Universitas PGRI Semarang yaitu Bapak Muhdi. M. Hum yang menceritakan sedikit pengalaman beliau sekaligus membacakan dan menyanyikan puisi karangannya. Gemuruh suara penonton terdengar sampai ke ujung ruangan saat Pak Muhdi menyanyikan puisi sambil mengiringinya menggunakan gitar. Penonton ikut menikmati lirik demi lirik dari puisi yang dinyanyikan Rektor universitas PGRI Semarang itu. Tidak hanya para mahasiswa, tetapi para tamu undangan juga sangat kagum dengan permainan gitar dan suara Pak Muhdi.

Setelah rangkaian penampilan-penampilan yang mengagumkan, tiba saatnya acara inti yaitu mengomentari 3 buku oleh 1 pengarang. Kritikus-kritikus itu antara lain Dr. Nur Hidayat, Drs. S. Prasetyo Utomo, M. Pd, dan Widyanuari Eko Putro, S. Pd yang dipandu oleh Dr. Harjito pada siang hari itu. Para kritikus tersebut mengktitik buku dari Triyanto Triwikromo. Judul buku tersebut yaitu Bersepeda Neraka yang merupakan fiksi mini, Selir Musim Panas yang merupakan lirik perih, dan Sesat Pikir para Binatang yang dikategorikan sebagai cerpen. Dari ketiga kritikus tersebut, sebagian besar mengrkritik tentang tokoh dan alur yang kurang jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar